Standar Akreditasi JCI bab 4 sub 2 (KELOMPOK STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PADA PASIEN)


PELAYANAN PASIEN RISIKO TINGGI DAN PENYEDIAAN PELAYANAN RISIKO TINGGI

Standar PP.3.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pasien risiko tinggi dan ketentuan pelayanan risiko tinggi.

Maksud dan Tujuan PP.3.
Rumah sakit memberi pelayanan bagi berbagai variasi pasien dengan berbagai variasi kebutuhan pelayanan kesehatan. Beberapa pasien yang digolongkan risiko-tinggi karena umur, kondisi, atau kebutuhan yang bersifat kritis. Anak dan lanjut usia umumnya dimasukkan dalam kelompok ini karena mereka sering tidak dapat menyampaikan pendapatnya, tidak mengerti proses asuhan dan tidak dapat ikut memberi keputusan tentang asuhannya. Demikian pula, pasien yang ketakutan, bingung atau koma tidak mampu memahami proses asuhan bila asuhan harus diberikan secara cepat dan efisien.

Rumah sakit juga menyediakan berbagai variasi pelayanan, sebagian termasuk yang berisiko tinggi karena memerlukan peralatan yang kompleks, yang diperlukan untuk pengobatan penyakit yang mengancam jiwa (pasien dialisis), sifat pengobatan (penggunaan darah atau produk darah), potensi yang membahayakan pasien  atau efek toksik dari obat berisiko tinggi (misalnya kemoterapi).

Kebijakan dan prosedur merupakan alat yang sangat penting bagi staf untuk memahami pasien tersebut dan pelayanannya dan memberi respon yang cermat, kompeten dan dengan cara yang seragam. Pimpinan bertanggung jawab untuk :
-Mengidentifikasi pasien dan pelayanan yang dianggap berisiko tinggi di rumah sakit;
-Menggunakan proses kerjasama (kolaborasi) untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur yang sesuai;
-Melaksanakan pelatihan staf dalam mengimplementasikan kebijakan dan prosedur.

Pasien dan pelayanan yang diidentifikasikan di PP.3.1. s/d PP.3.9., apabila ada di dalam rumah sakit maka dimasukkan dalam proses. Tambahan pasien dan pelayanan juga diperhitungkan bila terwakili dalam populasi pasien dan pelayanan.

Rumah sakit dapat pula melakukan identifikasi risiko sampingan sebagai akibat dari suatu prosedur atau rencana asuhan (contoh, perlunya pencegahan trombosis vena dalam, ulkus dekubitus dan jatuh). Bila ada risiko tersebut, maka dapat dicegah dengan cara melakukan pelatihan staf dan mengembangkan kebijakan dan prosedur yang sesuai (lihat juga HPK.1.5, EP 1 dan 2).

Elemen Penilaian PP.3.
1.Pimpinan rumah sakit telah mengidentifikasikan pasien dan pelayanan risiko tinggi.
2.Pimpinan rumah sakit menggunakan proses kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur yang dapat dilaksanakan.
3.Staf sudah dilatih dan menggunakan kebijakan dan prosedur untuk mengarahkan asuhan.

Standar PP.3.1.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan kasus emergensi

Standar PP.3.2.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan pemberian pelayanan resusitasi di seluruh unit rumah sakit

Standar PP.3.3.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan penanganan, penggunaan, dan pemberian darah dan produk darah.

Standar PP.3.4.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pasien yang menggunakan peralatan bantu hidup dasar atau yang koma.

Standar PP.3.5.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pasien dengan penyakit menular dan mereka yang daya tahannya diturunkan.

Standar PP.3.6.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pasien dialisis (cuci darah)

Standar PP.3.7.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan penggunaan alat penghalang (restraint) dan asuhan pasien yang diberi penghalang.

Standar PP.3.8.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pasien usia lanjut, mereka yang cacat, anak-anak dan populasi yang berisiko disiksa.

Standar PP.3.9.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan asuhan pada pasien yang mendapat kemoterapi atau terapi lain yang berisiko tinggi.

Maksud dan Tujuan PP.3.1 s/d PP.3.9.
Kebijakan dan prosedur harus dibuat secara khusus untuk kelompok pasien yang berisiko atau pelayanan yang berisiko tinggi, agar tepat dan efektif dalam mengurangi risiko terkait. Sangatlah penting bahwa kebijakan dan prosedur mengatur:
a.bagaimana perencanaan dibuat, termasuk identifikasi perbedaan pasien dewasa dan anak-anak atau keadaan khusus lain.
b.dokumentasi yang diperlukan oleh pelayanan secara tim untuk bekerja dan berkomunikasi secara efektif.
c.pertimbangan persetujuan khusus bila diperlukan.
d.persyaratan pemantauan pasien
e.kompetensi atau ketrampilan yang khusus dari staf yang terlibat dalam proses asuhan.
f.ketersediaan dan penggunaan peralatan khusus.

Pedoman klinis dan clinical pathway seringkali berguna dalam menyusun kebijakan dan prosedur dan dapat dimasukkan kedalamnya (lihat juga HPK.1.4, EP 2; HPK.1.5, EP 1 dan 2, dan AP.1.7).

Catatan : untuk standar PP.3.1 s/d PP.3.9, elemen a. s/d f Maksud dan Tujuan harus tercermin dalam kebijakan dan prosedur yang disyaratkan.

Elemen Penilaian PP.3.1.
1.Asuhan pasien gawat darurat diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Pasien menerima asuhan yang konsisten dengan kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.2.
1.Penggunaan tata laksana pelayanan resusitasi yang seragam diseluruh rumah sakit diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Resusitasi diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.3.
1.Penanganan, penggunaan, dan pemberian darah dan produk darah diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Darah dan produk darah diberikan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.4.
1.Asuhan pasien koma diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Asuhan pasien dengan alat bantu hidup diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
3.Pasien koma dan yang dengan alat bantu hidup menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian 3.5.
1.Asuhan pasien dengan penyakit menular diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Asuhan pasien  immuno-suppressed diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
3.Pasien immuno-suppressed dan pasien dengan penyakit menular menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.6.
1.Asuhan pasien dialisis diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Pasien dialisis menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.7.
1.Penggunaan peralatan penghalang (restraint) diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Pasien dengan peralatan penghalang menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.8.
1.Asuhan pasien yang lemah, lanjut usia dengan ketergantungan bantuan diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Pasien yang lemah, lanjut usia yang tidak mandiri menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.
3.Asuhan pasien anak dan anak dengan ketergantungan bantuan diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
4.Anak-anak dan anak dengan ketergantungan bantuan menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.
5.Populasi pasien dengan risiko kekerasan harus diidentifikasi dan asuhannya diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
6.Populasi pasien yang teridentifikasi dengan risiko kekerasan menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

Elemen Penilaian PP.3.9.
1.Pelayanan pasien yang mendapat kemoterapi atau pengobatan risiko tinggi lain diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
2.Pasien yang mendapat kemoterapi atau pengobatan risiko tinggi lain menerima pelayanan sesuai kebijakan dan prosedur.

MAKANAN DAN TERAPI NUTRISI

Standar PP.4.
Pilihan berbagai variasi makanan yang sesuai dengan status gizi pasien dan konsisten dengan asuhan klinisnya tersedia secara reguler.

Maksud dan Tujuan PP.4.
Makanan dan nutrisi yang memadai penting bagi kondisi kesehatan dan proses pemulihan pasien. Makanan yang sesuai dengan umur pasien, budaya pasien dan preferensi diet, rencana pelayanan, harus tersedia secara rutin. Pasien berpartisipasi dalam perencanaan dan seleksi makanan, dan keluarga pasien dapat, bila sesuai, berpartisipasi dalam menyediakan makanan, konsisten dengan budaya, agama, dan tradisi dan praktek lain. Berdasarkan asesmen kebutuhan pasien dan rencana asuhan,  DPJP atau pemberi pelayanan lainnya yang kompeten memesan makanan atau nutrien lain yang sesuai bagi pasien. Bila keluarga pasien atau pihak lain menyediakan makanan pasien, mereka diberikan edukasi tentang makanan yang dilarang / kontra indikasi dengan kebutuhan dan rencana pelayanan, termasuk informasi tentang interaksi obat dengan makanan. Bila mungkin,  pasien ditawarkan berbagai macam makanan yang konsisten dengan status gizinya.

Elemen Penilaian PP.4.
1.Makanan atau nurtisi yang sesuai untuk pasien, tersedia secara reguler
2.Sebelum memberi makan pasien, semua pasien rawat inap telah memesan makanan dan dicatat.
3.Pesanan didasarkan atas status gizi dan kebutuhan pasien
4.Ada bermacam variasi pilihan makanan bagi pasien konsisten dengan kondisi dan pelayanannya
5.Bila keluarga menyediakan makanan, mereka diberikan edukasi tentang pembatasan diet pasien

Standar PP.4.1.
Penyiapan makanan, penanganan, penyimpanan dan distribusinya, aman dan memenuhi undang-undang, peraturan dan praktek terkini yang berlaku.

Maksud dan Tujuan PP.4.1.
Penyiapan makanan, penyimpanan dan distribusi harus dimonitor untuk memastikan keamanan dan sesuai dengan undang-undang, peraturan dan praktek terkini yang dapat diterima. Penyiapan makanan dan penyimpanan mengurangi risiko kontaminasi dan pembusukan. Makanan didistribusikan kepada pasien pada waktu yang telah ditetapkan. Makanan dan produk nutrisi termasuk produk nutrisi enteral, harus tersedia untuk memenuhi kebutuhan khusus pasien.

Elemen Penilaian PP.4.1.
1.Makanan disiapkan dengan cara mengurangi risiko kontaminasi dan pembusukan
2.Makanan disimpan dengan cara mengurangi risiko kontaminasi dan pembusukan
3.Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik
4.Distribusi makanan secara tepat waktu, dan memenuhi permintaan khusus
5.Praktek penanganan memenuhi peraturan dan perundangan yang berlaku

Standar PP.5.
Pasien yang berisiko nutrisi mendapat terapi gizi.

Maksud dan Tujuan PP.5.
Pada asesmen awal, pasien diperiksa / ditapis untuk mengidentifikasi adanya risiko nutrisi. Pasien ini akan dikonsulkan ke nutrisionis untuk asesmen lebih lanjut. Bila ternyata ada risiko nutrisi, dibuat rencana terapi gizi. Tingkat kemajuan pasien dimonitor dan dicatat dalam rekam medisnya. Dokter, perawat dan ahli diet dan kalau perlu keluarga pasien, bekerjasama merencanakan dan memberikan terapi gizi.

Elemen Penilaian PP.5.
1.Pasien yang pada asesmen berada pada risiko nutrisi, mendapat terapi gizi.
2.Suatu proses kerjasama dipakai untuk merencanakan, memberikan dan memonitor terapi gizi (lihat juga PP.2, Maksud dan Tujuan).
3.Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor (lihat juga AP.2, EP 1).
4.Respon pasien terhadap terapi gizi dicatat dalam rekam medisnya (lihat juga MKI.19.1, EP 5).

PENGELOLAAN RASA NYERI

Standar PP.6.
Pasien dibantu dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif.

Maksud dan Tujuan PP.6.
Rasa nyeri dapat merupakan pengalaman umum seorang pasien; nyeri yang tidak teratasi mengakibatkan efek tidak diharapkan secara fisik dan psikologis. Hak pasien untuk mendapatkan asesmen dan pengelolaan nyeri dihargai dan dibantu (lihat juga HPK.2.5, Maksud dan Tujuan). Berdasarkan lingkup pelayanan yang disediakan, rumah sakit memiliki proses untuk asesmen dan pengelolaan rasa nyeri yang sesuai, termasuk :
a)Identifikasi pasien yang nyeri pada waktu asesmen awal dan asesmen ulang.
b)Menyediakan pengelolaan nyeri sesuai pedoman dan protokol.
c)Komunikasi dengan dan mendidik pasien dan keluarga tentang pengelolaan nyeri dan gejala dalam konteks pribadi, budaya dan kepercayaan agama masing-masing (lihat juga HPK.1.1, EP 1).
d)Mendidik para praktisi pelayanan kesehatan tentang asesmen dan pengelolaan nyeri (lihat juga HPK.2.4).

Elemen Penilaian PP.6.
1.Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit mempunyai prosedur untuk identifikasi pasien yang kesakitan (lihat juga AP.1.7, EP 1, dan AP.1.8.2, EP 1).
2.Pasien yang kesakitan mendapat asuhan sesuai pedoman pengelolaan nyeri
3.Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit menjalankan proses untuk berkomunikasi dan mendidik pasien dan keluarga tentang rasa sakit (lihat juga PPK.4, EP 4).
4.Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit menjalankan proses mendidik staf tentang rasa sakit (lihat juga KPS.3, EP 1).

PELAYANAN PADA TAHAP TERMINAL (AKHIR HIDUP)

Pasien yang menuju akhir hidupnya, dan keluarganya, memerlukan asuhan yang terfokus akan kebutuhan mereka yang unik. Pasien dalam tahap terminal dapat mengalami gejala yang berhubungan dengan proses penyakit atau terapi kuratif atau memerlukan bantuan yang berhubungan dengan masalah-masalah psikososial, spiritual dan budaya yang berkaitan dengan kematian dan proses kematian. Keluarga dan pemberi pelayanan dapat diberikan kelonggaran dalam melayani anggota keluarga pasien yang sakit terminal atau membantu meringankan rasa sedih dan kehilangan.

Tujuan rumah sakit untuk memberikan asuhan pada akhir kehidupan harus mempertimbangkan tempat asuhan atau pelayanan yang diberikan (seperti hospice atau unit asuhan palliatif), tipe pelayanan yang diberikan dan kelompok pasien yang dilayani. Rumah sakit mengembangkan proses untuk mengelola pelayanan akhir hidup. Proses tersebut adalah :
-memastikan bahwa gejala-gejalanya akan dilakukan asesmen dan dikelola secara tepat.
-memastikan bahwa pasien dengan penyakit terminal dilayani dengan hormat dan respek.
-melakukan asesmen keadaan pasien sesering mungkin sesuai kebutuhan untuk mengidentifikasi gejala-gejala.
-merencanakan pendekatan preventif dan terapeutik dalam mengelola gejala-gejala.
-mendidik pasien dan staf tentang pengelolaan gejala-gejala.

Standar PP.7.
Rumah sakit memberi mengatur pelayanan akhir kehidupan.

Maksud dan Tujuan PP.7.
Pasien yang dalam proses kematian mempunyai kebutuhan khusus untuk dilayani dengan penuh hormat dan kasih. Untuk mencapai ini semua staf harus sadar akan uniknya kebutuhan pasien dalam keadaan akhir kehidupannya. Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek asuhan selama stadium akhir hidup. Asuhan akhir kehidupan yang diberikan rumah sakit termasuk :
a)pemberian pengobatan yang sesuai dengan gejala dan keinginan pasien dan keluarga;
b)menyampaikan isu yang sensitif seperti autopsi dan donasi organ;
c)menghormati nilai yang dianut pasien, agama dan preferensi budaya;
d)mengikutsertakan pasien dan keluarganya dalam semua aspek pelayanan;
e)memberi respon pada masalah-masalah psikologis, emosional, spiritual dan budaya dari pasien dan keluarganya.

Untuk mencapai tujuan ini semua staf harus menyadari akan kebutuhan pasien yang unik  pada akhir hidupnya (lihat juga HPK.2.5, Maksud dan Tujuan). Rumah sakit mengevaluasi mutu asuhan akhir-kehidupan, berdasarkan evaluasi (serta persepsi) keluarga dan staf, terhadap asuhan yang diberikan.

Elemen Penilaian PP.7.
1.Semua staf harus diupayakan memahami kebutuhan pasien yang unik pada akhir kehidupan.
2.Asuhan akhir kehidupan oleh rumah sakit mengemukakan kebutuhan pasien yang dalam meninggal, sedikitnya termasuk elemen a) s/d e) tersebut diatas.
3.Kualitas asuhan akhir kehidupan dievaluasi oleh staf dan keluarga pasien.

Standar PP.7.1.
Asuhan pasien dalam proses kematian harus meningkatkan kenyamanan dan kehormatannya.

Maksud dan Tujuan PP.7.1.
Rumah sakit memastikan pemberian asuhan yang tepat bagi mereka yang kesakitan atau dalam proses kematian dengan cara :
-melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan gejala primer atau sekunder
-mencegah gejala-gejala dan komplikasi sejauh yang dapat diupayakan
-melakukan intervensi dalam masalah psikososial, emosional dan spiritual dari pasien dan keluarga, menghadapi kematian dan kesedihan
-melakukan intervensi dalam masalah keagamaan dan budaya pasien dan keluarga
-mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam keputusan terhadap asuhan

Elemen Penilaian PP.7.1.
1.Intervensi dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri dan gejala primer atau sekunder (lihat juga HPK.2.4, EP 1)
2.Gejala dan komplikasi dicegah sejauh yang dapat diupayakan (lihat juga AP.2, EP 2)
3.Intervensi dalam masalah psikososial, emotional dan kebutuhan spritual pasien dan keluarga dalam hal kematian dan kesedihan
4.Intervensi dalam masalah agama dan budaya pasien dan keluarga
5.Pasien dan keluarga dilibatkan dalam mengambil keputusan terhadap asuhan (lihat juga HPK.2, EP 1, dan HPK.2.1, EP 4)

0 Response to "Standar Akreditasi JCI bab 4 sub 2 (KELOMPOK STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PADA PASIEN)"

Poskan Komentar

Google+ Followers