TINJAUAN PUSTAKA KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT

TINJAUAN PUSTAKA  KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Komunikasi
2.1.1 Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu komunis yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih, sedangkan menurut Cherry dalam Stuart (1983) komunikasi berasal dari kata communico yang artinya membagi. (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin comunicare yang artinya berpartisipasi atau memberitahukan. Komunikasi dapat dipahami sebagai hubungan atau saling hubungan, saling pengertian dan sebagai pesan (Alo Liliweri, 1997 dalam Mundakir, 2006)

Menurut pendapat beberapa ahli mengenai definisi komunikasi, sebagai berikut:
Harrold D, Lasswell yang dikutip Canga, H (2004) menerangkan tindakan komunikasi adalah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa, dan apa pengaruhnya”. (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Book dalam Robbins dan Jones (1982) mendefinisikan komunikasi suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Roger dan D. Lawrence Kincaid (1981) menjelaskan komunikasi sebagai suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Duldt-Bettey yang dikutip Suryani (2006) mendefinisikan komunikasi sebagai sebuah proses penyesuaian dan adaptasi yang dinamis antara dua orang atau lebih dalam sebuah interaksi tatap muka dan terjadi pertukaran ide, makna, perasaan dan perhatian. (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Edward Depari dari AW Widjaja, (2000) mendefinisikan komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan. (Mundakir, 2006)
James A.F. Stoner mendefinisikan bahwa komunikasi adalah serangkaian peristiwa yang terkait dalam penyampaian pesan dari pengirim ke penerima. Komunikasi adalah dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan (Mundakir, 2006)
William J Seiler (1988) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah proses yang mana symbol verbal dan non verbal dikirimkan, diterima dan diberi arti. (Mundakir, 2006)
Holvan, Janis, dan Kelley adalah seorang ahli sosiologi Amerika mengatakan bahwa “communication is the process by which an individual transmits (usually verbal) to modify the behavior of other individuals” dengan kata lain, komunikasi adalah proses individu mengirimkan stimulus (umumnya dalam bentuk verbal) untuk mengubah tingkah laku seseorang (Fordale, 1981 dalam Mundakir, 2006)
Louis Fordale (1981) seorang ahli komunikasi dan pendidikan mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu system dapat didirikan, dipelihara dan diubah. “communication is the process by which a system is established, maintained, and altered by means os shared that operate according to rules”. (Mundakir, 2006)
Roger dalam Stuart G.W. (1998) menekankan bahwa hakikat dari komunikasi adalah sebagai suatu hubungan yang dapat menimbulkan perubahan sikap dan tingkah laku serta kebersamaan dalam menciptakan saling pengertian dari orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Oleh karena itu kebersamaan arti, maupun kesamaan bahasa sangat mempengaruhi informasi tersebut untuk diterima oleh komunikan. (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)
Menurut Onong yang dikutip Suprapto, T (2002), beberapa syarat pesan agar mendapatkan tanggapan yang baik dari komunikan adalah sebagai berikut:
a. Pesan dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang yang tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dengan komunikan sehingga dapat dimengerti oleh komunikator ataupun komunikan.
c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan atau menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan pribadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
Dari beberapa definisi komunikasi menurut pendapat beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian informasi (pengiriman atau pertukaran) berupa stimulus, signal, symbol, informasi baik dalam bentuk verbal (interaksi tatap muka) maupun non verbal yang berisi  ide, perasaan, makna, perasaan, perhatian, makna, serta pikiran dari pengirim kepada penerima dengan harapan dan tujuan penerima pesan dapat menggunakan informasi tersebut untuk suatu perubahan (baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor). (Nasir Abdul, Muhith Abdul, Sajidin, Mubarok, 2009)

2.1.2   Pengertian Komunikasi Terapeutik
Menurut As Homby (1974) yang dikutip oleh Nurjannah, I (2001) mengatakan bahwa terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan. Hal yang menggambarkan bahwa dalam menjalani proses komunikasi terapeutik, seorang perawat melakukan kegiatan dari mulai pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan rencana tindakan keperawatan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah direncanakan sampai pada evaluasi yang semuanya itu bisa dicapai dengan maksimal apabila terjadi proses komunikasi yang efektif dan intensif. Hubungan take and give antara perawat dan klien menggambarkan hubungan memberi dan menerima.
Kalthner, dkk (1995) mengatakan bahwa komunikasi terapeutik terjadi dengan tujuan menolong pasien yang dilakukan oleh orang-orang yang professional dengan menggunakan pendekatan personal berdasarkan perasaan dan emosi. Didalam komunikasi terapeutik ini harus ada unsur kepercayaan. (Mundakir, 2006)
Heri Purwanto (1994) mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dalam kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien (Mundakir, 2006)
Mulyana (2000) mengatakan komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal. (Mundakir, 2006)
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.
Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
Stuart G.W. (1998), komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpesonal antara perawat dengan pasien, dalam hubungan ini perawat dan pasien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat dijelaskan bahwa komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat – klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain.
Komunikasi adalah berhubungan. Hubungan perawat-klien yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi (Budi Ana Keliat dalam Mundakir, (2006)
Hubungan terapeutik sebagai pengalaman belajar baik bagi klien maupun perawat yang diidentifikasikan dalam empat tindakan yang harus diambil antara perawat – klien, yaitu:
- Tindakan diawali perawat
- Respon reaksi dari perawat
- Interaksi dimana perawat dan klien mengkaji kebutuhan klien dan tujuan
- Transaksi dimana hubungan timbal balik pada akhirnya dibangun untuk mencapai tujuan hubungan
Komunikasi terapeutik terjadi apabila didahului hubungan saling percaya antara perawat – klien. Dalam konteks pelayanan keperawatan kepada klien, pertama-tama klien harus percaya bahwa perawat mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam mengatasi keluhannya, demikian juga perawat harus dapat dipercaya dan diandalkan atas kemampuan yang telah dimiliki dari aspek kapasitas dan kemampuannya sehingga klien tidak meragukan kemampuan yang dimiliki perawat. Selain itu perawat harus mampu memberikan jaminan atas kualitas pelayanan keperawatan agar klien tidak ragu, tidak cemas, pesimis dan skeptis dalam menjalani proses pelayanan keperawatan.

2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi   Komunikasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi baik sebagai faktor pendukung maupun penghambat terjadinya komunikasi yang efektif tidak lepas dari unsur-unsur yang terdapat dalam proses komunikasi yaitu komunikator, massage, komunikan, media, efek/pengaruh dan lingkungan.

2.2.1 Faktor yang berhubungan dengan proses Komunikasi
a. Faktor sumber pesan (source)
Sebagai seorang perawat professional, sumber pesan/informasi sangat penting. Beberapa faktor sumber yang mempengaruhi proses komunikasi adalah:
1) Bahasa yang digunakan
Kebanyakan sumber-sumber informasi/pesan terutama buku karangan orang luar negeri, serta internet yang mengakses informasi dunia adalah berbahasa asing. Hal ini sangat menghambat masyarakat kita dalam memperoleh sumber karena kenyataan memang belum banyak yang memahami bahasa asing tersebut.


2) Faktor teknis
Terkait dengan operasional dalam memanfaatkan sumber informasi misalnya internet
3) Ketersediaan dan keterjangkauan sumber
b. Factor komunikator (comunicator)
1) Penampilan dan sikap
Beberapa sikap yang dapat menunjang keberhasilan komunikator:
- Senyum (keep smiling)
- Terbuka
- Rendah hati
- Dapat menjadi pendengar yang baik
- Tidak sombong/angkuh
- Saling percaya
- Cakap
2) Penguasaan masalah
Seorang komunikator akan tegas dan mantap dalam menyampaikan pesan bila dia menguasai apa yang akan disampaikan.
3) Penguasaan bahasa
4) Kesempatan
5) saluran
c. Faktor pesan (massage)
Pesan yang disampaikan seorang komunikator dapat menimbulkan ketertarik-an atau sebaliknya kepada komunikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Teknik penyampaian pesan yang digunakan
- Bentuk pesan yang disampaikan dapat bersifat informative, persuasive dan koersif
- Pesan sesuai kebutuhan
- Pesan jelas
- Pesan simple isi tidak terlalu banyak.
d.      Faktor media/saluran (channel)
Media/saluran yang langsung terlibat dalam proses komunikasi disini sebagaimana yang disampaikan oleh Kariyoso, 1994 dalam Munzhakir (2000) adalah alat/sarana yang dilalui oleh suara, antara lain:
- Mata
- Hidung
- Otak
- Tangan
- Telinga.
e.  Faktor Umpan Balik (feedback)
Terjadinya umpan balik dalam proses komunikasi menandakan komunikasi berjalan aktif. Faktor umpan balik yang dapat mempengaruhi berlangsungnya komunikasi adalah:
- Relevansi dan pentingnya umpan balik harus dilaksanakan sesuai dengan topik atau pesan yang akan disampaikan
- Sifat umpan balik hendaknya tidak bersifat penilaian
- Waktu umpan balik dilakukan pada waktu yang tepat
f.  Faktor Komunikan (comunican)
Dalam konteks komunikan, komunikasi akan dapat berjalan lancar dan efektif dipengaruhi oleh:
- Penampilan dan sikap komunikan dalam menerima pesan meliputi beberapa hal antara lain sikap, ekspresi verbal maupun non verbal, busana yang dipakai dan kerapian komunikan
- Pengetahuan. Seseorang yang mempunyai pengetahuan terbatas, kurang informasi akan sulit menerima atau mengikuti pembicaraan orang lain, selain itu dampak dari kurang pengetahuan akan mempengaruhi komunikan dalam mempersepsikan informasi yang diterima secara benar.
- System sosial, pola, nilai dan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat perlu dipahami oleh seseorang dalam berkomunikasi
- Saluran, yang dimaksud adalah alat indra yang dimiliki komunikan dalam menerima dan mempersepsikan pesan.
g. Faktor Efek (effect)
Komunikasi dengan tujuan tertentu yang sudah lama dan sering dilakukan namun bila tidak membawa dampak atau efek nyata dari hasil komunikasi tersebut, maka orang atau komunikator cenderung jemu atau bosan untuk menyampaikan pesan berikutnya.
2.2.2   Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam pelayanan keperawatan
Menurut Perry dan Potter (1987) dalam Mudakhir (2006), persepsi seseorang, nilai, emosi, latar belakang budaya dan tingkat pengetahuan seseorang dapat mempengaruhi jalannya pengiriman dan penerimaan pesan (komunikasi) dalam pelayanan keperawatan
a. Persepsi
Persepsi adalah cara seseorang menyerap tentang sesuatu yang terjadi disekelilingnya, persepsi juga merupakan kerangka tujuan yang diharapkan dan hasil setelah mengobservasi lingkungan. Persepsi akan mempengaruhi jalannya komunikasi karena proses komunikasi harus ada persepsi dan pengertian yang sama tentang pesan yang disampaikan dan diterima oleh kedua belah pihak.
b. Nilai
Nilai adalah keyakinan yang dianut seseorang. Komunikasi yang terjadi antara klien dengan perawat dipengaruhi oleh nilai-nilai dari kedua belah pihak, nilai-nilai yang dianut oleh perawat tentunya beda dengan nilai-nilai yang dianut oleh klien. Dengan demikian perawat perlu memegang nilai-nilai professional dalam berkomunikasi.
c. Emosi
Emosi adalah subjektif seseorang dalam merasakan situasi yang terjadi disekelilingnya. Kekuatan emosi seseorang diipengaruhi oleh bagaimana kemampuan atau kesanggupan seseorang dala berhubungan denga orang lain.
d. Latar belakang social budaya
Latar belakang social budaya mempengaruhi jalannya komunikasi. Factor ini memang sedikit pengaruhnya namun paling tidak dijadikan pegangan bagi perawat dalam bertutur kata, bersikap, dan melangkah dalam berkomunikasi dengan klien.
e. Pengetahuan
Komunikasi sulit berlangsung bila terjadi perbedaan tingkat pengetahuan dari pelaku komunikasi. Seorang perawat akan mudah menyampaikan atau menjelaskan tentang penyebab meningginya kadar gula kepada pasien DM yang mempunyai pengetahuan tentang penyakitnya dibandingkan harus menjelaskan kepada orang awam tentang penyakit yang didterita.
f. Peran dan hubungan
Peran seseorang mempengaruhi dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Komunikasi akan berlangsung dengan terbuka, rileks dan nyaman bila dilakukan dengan kelompok yang mempunyai peran yang sama. Kemajuan hubungan perawat – klien adalah bila hubungan tersebut saling menguntung-kan dalam menjalin ide dan perasaannya.
g. Kondisi lingkungan
Ruangan yang ramah, bebas dari gangguan dan kericuhan adalah tempat yang baik untuk komunikasi. Perawat harus dengan tenang dan jelas dalam memberikan informasi kepada klien dan keluarganya.
2.3 Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Stuart, tujuan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien : 1) Realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat pada diri sendiri. 2) Identitas diri yang jelas dan integritas diri yang tinggi. 3) Kemampuan membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan mencintai. 4) Peningkatan fungsi dan kemampuan yang memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.
Komunikasi terapeutik dilaksanakan dengan tujuan:
a. Membantu pasien untuk memperjelaskan dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan
b.  Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya
c. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan
d. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara professional dan proporsional dalam rangka membantu menyelesaikan masalah klien.
2.4 Teknik Komunikasi Terapeutik
Stuart dan Sudeen, 1987;124 dalam Muzakhir (2006) dikatakan bahwa dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien, perawat dapat menggunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut:
a.  Mendengar (listening)
Merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien, memberi kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif dengan tetap kritis dan korektif bila apa yang disampaikan klien perlu diluruskan.
Tujuan teknik ini adalah memberi rasa aman klien dalam mengungkapkan perasaannya dan menjadi kestabilan emosi/psikologis klien.
b. Pertanyaan terbuka (broad opening)
Teknik ini memberikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya sesuai dengan kehendak klien tanpa membatasinya
c. Mengulang (restaring)
Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien.
d. Klarifikasi
Dilakukan bila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien berhenti karena malu mengemukakan informasi. Gunanya untuk kejelasan dan kesamaan ide, perasaan dan persepsi klien-perawat.
e. Refleksi
Refleksi merupakan reaksi perawat-klien selama berlangsungnya komunikasi. Refleksi ini dibedakan menjadi dua yaitu refleksi isi, bertujuan menvalidasi apa yang didengar. Refleksi perasaan yang bertujuan memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaannya.
f. Memfokuskan
Membantu kien bicara pada topik yang telah dipilih dan yang penting serta menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yaitu lebih spesifik, lebih jelas dan berfokus pada realistis.

g. Membagi persepsi
Meminta pendapat klien tentang hasil yang perawat rasakan dan pikirkan.
h. Identifikasi tema
Identifikasi latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan. Gunanya meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah.
i. Diam (silence)
Tujuannya untuk memberikan kesempatan berfikir dan memotivasi klien untuk bicara.
j. Informing
Teknik ini bertujuan untuk memberi informasi dan fakta untuk pendidikan kesehatan bagi klien, misalnya perawat menjelaskan tentang penyebab panas yang dialami klien.
k. Saran
Memberikan alternative ide untuk pemecahan masalah. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan.
2.5 Tahapan Komunikasi Terapeutik
a. Pre interaksi
Adalah masa persiapan sebelum mengevaluasi dan berkomunikasi dengan pasien. Pada masa ini perawat perlu membuat rencana interaksi dengan pasien yaitu: melakukan evaluasi diri, menetapkan tahapan hubungan/ interaksi, merencanakan interaksi.
b. Perkenalan
Adalah kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu. Hal yang perlu dilakukan perawat adalah: memberi salam, memperkenalkan diri; menanyakan nama pasien; menyepakati pertemuan (kontrak); melengkapi kontrak; menyepakati masalah pasien; mengakhiri perkenalan.
c. Orientasi
Fase ini dilakukan pada awal setiap pertemuan kedua dst. Tujuan: memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien dan mengevaluasi hasil tindakan yg lalu. Hal yang harus diperhatikan: memberi salam; memvalidasi keadaan pasien; mengingatkan kontrak.
d. Fase kerja
Merupakan inti hubungan perawat-klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Tujuan tindakan keperawatan : 1) Meningkatkan pengertian dan pengenalan  pasien tentang diri, perasaan, pikiran dan perilakunya (tujuan kognitif). 2) Mengembangkan, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan pasien secara mandiri  menyelesaikan masalah yang dihadapi (tujuan  afektif & psikologi). 3) Melaksanakan terapi/klinis keperawatan.
4) Melaksanakan pendidikan kesehatan. 5) Melaksanakan kolaborasi. 6) Melaksanakan observasi dan pemantauan.
e. Fase terminasi
Merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dengan pasien. Klasifikasi terminasi:
1) Terminasi sementara: akhir dari tiap pertemuan perawat dengan pasien; terdiri dari tahap evaluasi hasil, tahap tindak lanjut dan tahap untuk kontrak yang akan datang.
2) Terminasi akhir: terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau perawat selesai praktik. Isi percakapan antara perawat dengan pasien meliputi tahap evaluasi hasil, isi percakapan tindak lanjut dan tahap eksplorasi perasaan.


0 Response to "TINJAUAN PUSTAKA KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT"

Poskan Komentar

Google+ Followers